Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan email dari pembaca blog saya. Mungkin beliau membaca posting tulisan yang ini:
http://whasid.wordpress.com/2013/01/25/kewajiban-istri-terhadap-suami/ atau yang ini
http://whasid.wordpress.com/2012/09/21/kewajiban-suami-terhadap-istri/
Namun, karena kesibukan memasak buat tetamu dan peserta
kursus pernikahan juga persiapan acara
Syukuran pernikahan 6 pasang pengantin Staff Global Ikhwan, email tersebut belum saya respon. Pagi ini alhamdulillah ada keluangan waktu, dan sengaja saya publish email tersebut (dengan menyamarkan nama pengirim tentunya) di blog ini. Harapan saya, semoga ada pandangan-pandangan yang lebih bernas dalam merespon pertanyaan yang diajukan.
nah, berikut email ibu tersebut:

Assalamu'alaikum Wr Wb..
Sebelumnya saya mohon maaf karena saya mengirimkan email ini ke
Bapak, saya mengetahui email Bapak dari blog Bapak tentang Kewajiban
Suami Terhadap Isteri.
Saya K, seorang istri dan seorang ibu dengan dua anak. Saya sudah
menikah kurang lebih sembilas belas tahun yang lalu, usia saya
sekarang 38 tahun dan suami saya 42 tahun, saya menikah dalam usia masih
muda.
Selama usia pernikahan itu, jika kami berselisih paham, suami saya selalu mendiamkan saya.
Untuk permasalahan saya kali ini, suami saya mendiamkan saya sudah lima
hari, padahal saya tidak pernah mengerti apa salah saya, awalnya hanya
karena saya salah bicara dengan menanyakan sesuatu yang saya tidak tahu
tentang keberadaan suami saya semalam (yang ternyata suami saya tidur di
rumah ibunya karena ibunya sakit parah), dan saya tidak diceritakan
secara detail tentang sakit ibunya. Itu yang membuat saya tersinggung
karena suami saya tidak terbuka tentang sakit ibunya. Akhirnya kami
saling membela diri dengan alasan kami masing-masing. Dan lagi-lagi saya
yang harus minta maaf duluan dengan mencium tangan suami. Akan tetapi
suami ternyata masih marah dengan mendiamkan saya, tapi saya tetap
menyapa dia dan bersikap layaknya seorang istri dengan tetap memberi
makan dan minum walaupun suami saya tidak pernah mau menyentuh makanan
dan minuman yang saya buat.
Suami sering mendiamkan saya, bahkan pernah sampai sepuluh hari mendiamkan saya.
Itulah Pak pada intinya sifat suami saya.
Yang ingin saya tanyakan :
1. Apakah saya berdosa telah menyinggung suami saya dengan pertanyaan saya itu?
2. Apa hukumnya jika suami mendiamkan istrinya selama itu?
3. Apa yang harus saya lakukan?
Saya mohon dengan sangat jawabannya Pak, karena saya bingung dan sangat memerlukan masukan yang baik.
Terimakasih banyak dan semoga Allah SWT membalas kebaikan Bapak. Aamiin..
Wassalamu'alaikum Wr Wb..
Respon saya:
Sebelum mendiskusikan mengenai perkara hukum, alangkah baiknya bila Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang itu kita kenali terlebih dahulu. Hukum syariat, Allah yang ciptakan. Rasululah saw selama 13 tahun berdakwah di Makah memperkenalkan Allah hingga Allah ditakuti dan dicintai. Perasaan merasa bersama Allah begitu mendalam sehingga ketika Sayidina Bilal dijemur di tengah padang pasir di bawah terik mentari sambil ditindih batu besar, beliau cukup bersama Allah. Ahad, Ahad, Ahad, itu yang terluncur dari mulut Sayidina Bilal. Beliau menjadi kuat bila bersama Allah.
Setelah Allah sudah dikenali, ditakuti dan dicintai, barulah 11 tahun fase Madinah hukum-hukum syariat yang sangat banyak itu diturunkan. Maknanya, tanpa takut Allah dan cinta Rasulullah saw, hukum-hukum syariat itu mustahil dijalankan. Yang ada hanya akan menjadi bahan perdebatan dan bahan saling menyalahkan.
Bila kita kenal Allah, kan kita yakin bahwa tiada perkara yang berlaku terjadi tanpa izin Allah. Demikian pula yang terjadi pada kehidupan rumah tangga ibu. Allah yang mengatur segalanya.
Setiap ujian, Allah datangkan supaya si hamba kembali kepada Tuhannya. Allah tempat kita mengadu. Allah tempat kita bergantung. Allah penyelesai semua masalah.pertanyaannya, adakah kita sudah mengenaliNYA? adakah kita sudah takut dan cinta kepadaNYA? Adakah kita sudah mencintai pesuruhNYA?
Rasanya persoalan utamanya ada pada perkara yang asas tersebut. Jadi apa yang harus dilakukan?
1. Banyak-banyak mohon ampun kepada
Allah. Mengaku salah dihadapan Allah, menyerah diri kepada Allah. Bukankah Nabi Yunus, Nabi yang Maksum itu pun bersujud sambil berdoa:
Bukankah Rasulullah saw yang maksum itupun juga istighfar minimal 70 kali sehari? lagilah kita hamba yang terlalu banyak salah dan dosa. Insya Allah bu, kalau kita banyak meneliti kesalahan sendiri, ngak sempat kita lihat kesalahan orang lain, apalagi kesalahan pemimpin. Hati akan tenang dengan dunia dan teringat selalu kampung yang abadi yakni akhirat. Hidup di dunia ini sebentar saja.
2. Banyak bershalawat menghubungkan hati dengan kekasih Allah yatitu
Rasulullah saw.
3. Perbaiki sholat. Sholat adalah perhubungan kita dengan Allah. Bagaimana mau memperbaiki hubungan dengan suami bila hubungan dengan Allah yang memiliki dan menciptakan serta memberi suami saja diabaikan. Usahakan sholat di awal waktu. Betulkan bacaan2 sholat, pahami makna bacaan yang dibaca.
Rasanya sekian dulu.
wallahua'lam.