Showing posts with label global ikhwan. Show all posts
Showing posts with label global ikhwan. Show all posts

Sunday, August 9, 2015

Global Ikhwan Jadi Bagian Kesultanan Palembang Darussalam

Satu sejarah baru perjuangan Islam telah tercatat di Palembang. Ya....setelah sekian lama difitnah, dihina, dan disesat-sesatkan, pada hari Sabtu 8 Agustus 2015, Global Ikhwan mendapat pembelaan dari Allah SWT. Atas kehendak Sultan Palembang sendiri, Global Ikhwan dikukuhkan menjadi bagian dari Kesultanan Palembang.

SMB III Prabu Diradja (kiri) foto bersama tamu undangan usai melantik Global Ikhwan menjadi bagian dari Kesultanan Palembang Darussalam, Sabtu (9/8/2015).  [courtesy: SRIPOKU.COM/REFLI PERMANA]

 Berikut liputan Media:

Video Kesultanan Palembang Darussalam Kukuhkan Guguk Global Ikhwan Sedunia


Laporan Wartawan Tribun Sumsel, Hartati

TRIBUNNEWS.COM, PALEMBANG - Kesultanan Palembang Darussalam melakukan pengukuhan Guguk Global Ikhwan Sedunia di istana Kesultanan Palembang Darussalam oleh Sultan Mahmud Badaruddin III Prabu Diraja di Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (8/8/2015).

Sebanyak 24 zona guguk Global Ikhwan dari 42 zona dikukuhkan menjadi tumenggung dari masing-masing zona.

Mereka disumpah patuh dan mengharumkan nama Kesultanan Palembang Darussalam untuk melaksanakan visi misi global ikhwan, serta mempererat silaturahmi antar guguk.

Hadir pula beberapa guguk perwakilan dari negeri tetangga seperti Thailand, Vietnam, Malaysia, Brunai Darussalam, Tiongkok, Singapura, dan berbagai perwakilan guguk Indonesia dari berbagai provinsi dan kota.

Pengukuhan guguk dilaksanakan dengan rangkaian tradisi adat mulai dari pembukaan hingga pemberian gelar pada masing-masing guguk sesuai perannya dan pengabdiannya selama ini, dilanjutkan dengan penutupan berfoto bersama seluruh guguk yang dikukuhkan. (*)


Global Ikhwan Jadi Bagian Dari Kesultanan Palembang




SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Kelompok Global Ikhwan yang tersebar di berbagai dunia kini resmi menjadi bagian dari Kesultanan Palembang Darussalam sejak Sabtu (8/8/2015).

Tercatat, 24 zona Global Ikhwan dari total 40 zona kini sudah resmi menjadi bagian Kesultanan Palembang Darussalam dengan dilantik langsung oleh Sultan Machmud Badaruddin (SMB) III Prabu Diradja.

Dikatakan Datuk Raja Ibadiasy Syakur selaku pimpinan Global Ikhwan zona Sumsel, acara pengukuhan yang baru saja usai digelar ini dilakukan secara insidentil.

Dengan kata lain, tidak terencana terlebih dahulu dan murni atas kehendak sultan sendiri.
Mereka yang datang dari luar negeri sudah datang beberapa hari sebelum acara digelar dengan mendapat undangan langsung dari sultan.

"Seperti yang kita ketahui, sultan memiliki banyak relasi di luar negeri dan tentunya menjalin hubungan akrab dengan kelompok Global Ikhwan yang tersebar di beberapa negara.

Mereka yang sudah menjadi bagian dari Kesultanan Palembang Darussalam diundang untuk datang dalam acara pengukuhan ini," kata Ibadiasy.

 Dilanjutkan Ibadiasy, selain pengukuhan bahwa 24 zona Global Ikhwan bagian dari Kesultanan Palembang Darussalam, SMB III Prabu Diraja juga melantik masing-masing perwakilan dari 24 zona itu untuk menjadi temenggung.

Dijelaskan Ibadiasy, temenggung merupakan gelar untuk masing-masing pemimpin di masing-masing zona.
Mereka ditetapkan menjadi temenggung karena dinilai paling memiliki peran dalam menyebarkan agama Islam di masing-masing zona.

Prabu Diraja Sematkan Gelar Datuk Pada Puluhan Orang

Suasana pemberian gelar datuk di rumah Kesultanan Palembang Darussalam.

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Sultan Mahmaud Badaruddin III, Prabu Diraja memberikan gelar datuk kepada sekitar 24 orang di rumah kesultanan Palembang Darussalam, jalan Sultan Mahmud Mansyur Palembang, Sabtu (8/8/2015) pagi.

Pengukuhan ke 24 datuk tersebut berasal dari Global Ikhwan yang tersebar di seluruh negara, India, Malaysia, Singapura dan lain-lain.

Sebelum pengukuhan pemberian gelar datuk, terlebih dahulu sudah dilakukan guguk Global Ikhwan.


Wednesday, August 5, 2015

Polygamy Inc: how Global Ikhwan is becoming a lifestyle choice for many devout Muslims

Pagi tadi terjumpa dengan sebuah artikel yang masih cukup fresh dari South China Morning Post. Diposting tanggal 19 Juli 2015, http://www.scmp.com/magazines/post-magazine/article/1840091/polygamy-inc-how-global-ikhwan-becoming-lifestyle-choice

Isi artikelnya cukup menarik makanya saya copas di sini untuk arsip saya.

Monggo disimak. Kalau yang bahasa inggrisnya pas-pasan bisa minta bantuan Mbah Gugel Trenslet.


###############################################

Polygamy Inc: how Global Ikhwan is becoming a lifestyle choice for many devout Muslims


With its controversial views on marriage and links to a banned religious sect, Global Ikhwan is proving divisive in Malaysia. Marta Kasztelan looks at a conglomerate that is less a company and more a lifestyle choice for its 4,000 ‘members’.

Global Ikhwan chief executive Lokman Hakim with his wives. Photos: Thomas Cristofoletti  
Sliding through his smartphone photo gallery, Lokman Hakim proudly shows off his 27 children – 15 from his first wife, eight from the second, one from the third and three from his fourth. The 47-year-old Malay considers himself fortunate because so many women agreed to enter into a polygamous union with him. While such an arrangement is legal in Malaysia, it is largely frowned upon in the moderate Muslim country.

“That’s life. It’s just something you have to go through,” explains Lokman, as he pockets his phone.

A more worrying issue, he says, is the stigma attached to his current occupation: he is the chief executive of Global Ikhwan, a Malaysian company with links to banned Islamic sect Al-Arqam.

Founded in the 1960s by Ashaari Mohammad, who had 40 children with his four wives – the maximum number allowed under Malaysian law – Al-Arqam owned a number of businesses and had strict rules regarding Islamic dress code and behaviour.

“It started with one family, then friends [joined] and it eventually lead to intermarriages,” Lokman explains.
Al-Arqam was banned by the Malaysian religious authorities in 1994, and five members were arrested and detained under the Internal Security Act. The teachings of Ashaari were considered deviant by the authorities because they allegedly alluded to supernatural powers and promoted unorthodox views about communicating with the Prophet.

After the ban, Ashaari set up what Lokman describes as an “Islamic business”, called Rufaqa, which became Syarikat Global Ikhwan and then, in May 2013, just Global Ikhwan.

A picture on Lokman’s phone shows him with some of his 27 children.

After Ashaari passed away in 2010, one of his widows, Hatijah Aam, took over his business empire. In May 2013, she was arrested when returning from Saudi Arabia on charges of trying to resurrect the movement, through the company.

At the time, Hatijah was president of the infamous Obedient Wives Club – an initiative launched by the female employees of Global Ikhwan – which called on women to “be obedient and act like first-class prostitutes” to keep their husbands from straying. The club, which was also accused of promoting polygamy, attracted widespread condemnation from the Malaysian public and international women’s rights groups, who said it didn’t reflect Islamic values and was detrimental to women.

SEE ALSO: The Obedient Wives Club: for better or for worse



Lokman, however, is adamant: those days of controversy are over. Following the outrage, he and a few hundred other Global Ikhwan employees attended 500 hours of “rehabilitation courses”, conducted by the Selangor Islamic Religious Department, and, in a public ceremony in October 2013, renounced their beliefs.

“We have no more problems with the authorities. You can see my photos with everyone, politicians, businessmen, the prime minister. Even with the religious authorities,” he says, visibly content as he drives around in a large Mercedes, showing off the Global Ikhwan headquarters.

Tucked away in a residential area of the commuter town of Rawang, 30km north of the capital, Kuala Lumpur, the company’s premises resemble a self-sufficient commune.

The estate features a prayer room, cafés, a bakery, restaurants, a health clinic – with a maternity ward – a travel agent, a clothing store, a small hotel and a recording studio, where Ikhwan’s entertainment-minded employees produce music and television dramas.

Among the company’s core businesses is the production of halal food, which it sells in its supermarkets.
Although Global Ikhwan officially rejected the “deviant” teachings of Al-Arqam, Lokman says, it maintains the Islamic business ethics of the original movement, which centre on “fardu kifayah” – community obligations.

Consequently, the company charges unusually flexible rates for the services it provides.
In the company clinic, for example, clients pay as much as they can afford – those with little means pay nothing.

The goal is not to make a profit; rather it is to adhere to good Islamic practices.

Dr Azlina Jamaluddin (centre) attends prayers with fellow Global Ikhwan members.


“A good Muslim is not simply a person who stays in the mosque or is fasting. A good Muslim is the person who benefits other people,” Lokman explains.

Walking around the lively facilities one cannot help but notice the profusion of colourful headscarfs.
“One quarter of the employees are men,” says the chief executive. “The rest are women. Islam allows men to marry more than one woman, with the aim of having a bigger Islamic society that can work together and do good things.

Here we encourage women to work, because they have to contribute to the society.”
All of Lokman’s wives, who are, in one way or another, linked to the original Al-Arqam sect, work or have worked for the company.

“You see, we are trying really hard to remain a religious business,” says Lokman. The only means of truly achieving this, he says, is the intermarriage of company employees, who today number 4,000 and often refer to the firm as a “movement” and to themselves as “members”. They come from countries where the business operates: Saudi Arabia – where most of its profits reportedly come from – Egypt, Indonesia, Dubai, Turkey, Jordan, Thailand, Singapore, Australia, Germany and Britain, to name a few.

MARDIONA HAKIM IS manager of he Global Ikhwan launderette, and Lokman’s fourth wife. Sitting on the floor of their Rawang house, clad in a bright pink hijab, the 34-year-old Australian explains her association with the movement, which has long had followers in her home country.

“When I was born, my parents were already members [of Al-Arqam]. They joined the movement for our benefit and to do good things for others.”

Having become disillusioned with the Western lifestyle in Australia, Mardiona relocated to Malaysia in 2000 and enrolled in an Islamic school run by the company. It was there that she first spotted her future husband.
Lokman explains that children of Global Ikhwan employees usually go to “normal schools” from the age of seven to 12 and then, depending on their parents’ wishes, further their education in Malaysia or Egypt, concentrating on Islamic studies.

In Malaysia the company runs 50 educational establishments for children and young adults – all registered with the authorities. Students sit the same exams as those taken at government faith schools, as well as study the movement’s religious curriculum.

Azlina (right) visits a friend who has recently given birth at the Global Ikhwan health clinic. 
For girls aged 13 and over, the Sekolah Menengah Islam Global Ikhwan is located in Puchong, in the southern suburbs of Kuala Lumpur. Here, daughters of company employees attend classes with orphans or students from families with limited means. The education is free, in keeping with the company’s ideology of “doing good deeds and spreading love”.

“For us at Global Ikhwan, it is so scary to watch the youngsters’ morale degrading so fast in today’s world,” says Wan Nor Fauziah Meor Mohammad, the school administrator.

“As Muslims, we need to prepare them, so they can choose between hell and heaven. It is our responsibility.”

Accordingly, the students’ lives revolve around prayer and religious studies, Arabic, maths and vocational training that mirrors the corporate activities of Global Ikhwan.

The girls can choose whether they want to pursue gardening or work at a café, a laundrette, a second-hand shop or the nursery, which cares for the infants of school staff during work hours. They also learn how to cook and clean.

This, says Lokman, prepares them for employment by Ikhwan and facilitates intermarriage within its worldwide network of employees.

“It’s easier because we have the same principles and understanding,” he adds.

A volunteer teacher at the school has hidden her involvement with the company from her husband, who dislikes the idea of polygamy. Her involvement with Ikhwan began 10 years ago, when, in search of a religious teacher, she attended a lecture held by one of the movement’s murshids – Islamic spiritual guides – who to many devout Muslims are indispensable if one is to “reach Allah”.

“All the ladies in the class were really nice to me and then I started falling in love with the teacher,” says the woman, who requested to remain anonymous.

Her desire to be accepted by the company was such that she tried to marry off her daughter, who “is OK with polygamy”, to one of the members. But because this attempt did not follow internal procedures, it was turned down by the company’s marriage committee, from which potential spouses must gain approval.

A cooking lesson at the Sekolah Menengah Islam Global Ikhwan school, in Puchong.

According to the mother, the rejection left both her and her daughter devastated.

Many company employees say loved ones were initially displeased by their decision to join.

Doctor Azlina Jamaluddin, the 46-year-old manager at the Global Ikhwan health clinic in Rawang, says, “My friends and my mother told me, ‘You are going to join this movement and your husband will marry another woman.’ It worried me for a while. I didn’t know which way to go. I wasn’t in the movement at full blast. But I really loved God and I loved the movement.”

A born-again Muslim, who only put her headscarf back on in 2001, Azlina admits she was the one convincing her husband, who now has three wives and works part-time for the company, to adopt a polygamous lifestyle.

“Initially, he wouldn’t have married another woman.

He’s just not that kind of guy,” she says, as she prepares to deliver a lecture to fellow female workers.
All of them, she says, are like herself, working women – a privilege, Azlina says, made possible by polygamy, which allows them to share child-rearing responsibilities with their “sisters”.

As the last of the women climb the stairs of the slightly dilapidated building and trickle into the lecture hall of the Rawang estate, Azlina begins, “Jealousy is like chocolate, so don’t be jealous of your sisters. It’s a temptation. You need to learn to fight it.

“What is important is to make God happy. We will get eternal happiness afterwards.”

Arguably, such teachings sound like those of a religious sect – an observation Azlina takes in her stride.
“We are a group learning about Islam. And in life you need to eat and you need to live, so for that we have a company. You can call it a movement, you can call it a company.” But, she adds, “You cannot separate the company from the religion.

“Islam is not a religion, it is a way of life.”

Saturday, March 21, 2015

Poligami Indah

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat mendengar informasi bahwa di Malaka Malaysia telah dibuka "Rumah Poligami Indah". Rumah ini menjadi tempat konsultasi berbagai permasalahan rumah tangga. Katanya sih....Dato'-dato dan pembesar-pembesar di Malaysia sono banyak yang poligami tapi bermasalah. Umumnya mereka poligami secara diam-diam, begitu istri pertama mengetahui berlakulah huru hara dalam rumah tangga. Jadi, Global Ikhwan menawarkan konsultasi untuk berbagai permasalahan dalam rumah tangga dengan solusi yang bukan sekedar teori.

Nah, setelah sekian lama (mungkin 5-7 bulan yang lalu) saya mendapat informasi itu, baru pagi ini berkesempatan melihat foto rumah yang dijadikan tempat konsultasi itu. Gara-garanya terbaca sebuah berita: ‘Rebranded’ Obedient Wives Club now back as polygamy counsellors

Rumah Poligami Indah



Dari berita tersebut, ada link ke website resminya dengan alamat: Poligami Indah

Tuan Lukman dan istri-istrinya


Monggo yang mau baca-baca langsung di klik aja link-nya. Yang menarik bagi saya ketika baca sekilas adalah: Cintailah Tuhan, Tuhan kan Maha Berkuasa untuk membuat hati bahagia. Poligami pun bisa bahagia apalagi yang monogami. Kalau Tuhan tidak dicintai, jangankan poligami, monogami pun huru hara.

Jadi, mau poligami ataupun monogami, tetap tujuan utama adalah mencintai Allah dan RasulNya bukan mencintai istri atau suami :). Bisa direnungkan lagi mengenai tujuan dan falsafah pernikahan.

Portal lain yang turut memuat beritanya ada di: RakyatTimedotCom

Semalam Bapak-bapak pada kongkow makan kacang sambil menunggu hujan reda. Tiba-tiba lewat serombongan bapak-bapak touring naik sepeda (sepeda yang dikayuh ya...bukan sepeda motor) melintas di depan ruko. Hujan-hujan malam-malam pula entah mau ke mana. Maka keluarlah selorohan: "kalau pergi sepedaan ama kawan-kawannya, istrinya mah anteng-anteng aja....tapi kalau pergi ke tempat istri ke 2.....hm....jadi singa".

Bapak satu lagi menimpali, tetangganya ada istri ke dua seorang Lurah di Jawa Timur. Rupanya ketauan istri pertamanya, lantas digrebek-lah rumah tersebut. Jauh-jauh grebek ke Bogor. Hm....huru hara. 

Tuesday, December 16, 2014

Kecap Ikhwan by Ikhwan Production

Pagi ini berkesempatan berkunjung ke Ikhwan Production. Sebenarnya lokasinya tidak jauh, 4km saja dari Plaza Niaga 2 Sentul City tempat saya biasa beraktivitas. Di Ikhwan Production ini sekarang fokus memproduksi 3 jenis komoditas: 1. Kecap Ikhwan, 2. Baso 3. Kopiah/songkok.

Kecap Ikhwan akhirnya dapat izin PIRT. Sertifikat halal sedang dalam proses pengurusan.

Ikhwan Production, di depan sekalian jualan baso.

Kecap Ikhwan, sudah ada izin

Tong fermentasi

Dapur

Menyiapkan label

Ibu2 bikin songkok/kopiah







Saturday, September 6, 2014

Kecap Ikhwan

Alhamdulillah, terimakasih ya Allah, telah hadir kecap Ikhwan.

Hampir setiap masakan pakai kecap. Baso pakai kecap. Ayam goreng mentega, jelas pakai kecap. Semur, jelas full kecap. Mie goreng, ngak sip kalau ngak pakai kecap. Dannnnn baaanyuak lagi jenis-jenis masakan yang memakai kecap.

Syukur alhamdulillah, Ikhwan Production sudah mulai memproduksi kecap. Produk yang lahir untuk mewibawakan Islam. Seluruh keuntungan penjualan kecap ini digunakan untuk membangun Islam, fi sabilillah.

Mari kita dukung produk Islam ini. Produk yang lahir dari airmata cinta pada Islam. Air mata yang berlinang karena sedih melihat Islam begitu mundur, begitu tidak mandiri dan tiada wibawa. Moga, usaha kecil ini Allah pandang besar.

Sebagai tim tukang masak, saya siap jadi pemakai fanatik kecap Ikhwan dalam segala jenis masakan.

Mie telor pakai kecap Ikhwan, sedap mantap


Mau turut menyokong produk Islam ini?
Bisa dikirim via jne loh :D

Qurban Bersama Yayasan Global Ikhwan

Hari Raya Idul Adha 1435H akan kita segera kita jelang. Hikmah besar pengorbanan Nabi Ibrahim as. dan keluarganya semoga dapat kita teladani bersama. Hidup untuk Allah, dibuktikan oleh Nabi Ibrahim as dan keluarganya dengan sanggup berkorban apa saja.

Tahun ini, 1435H Yayasan Global Ikhwan Indonesia menerima dan menyalurkan hewan Qurban. Yayasan Global Ikhwan Indonesia telah disahkan pendiriannya oleh Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor: AHU-4340.AH.01.02. Tahun 2008.

Selain disalurkan dalam bentuk daging mentah, Yayasan Global Ikhwan juga mengolah daging sapi dalam bentuk baso frozen, dendeng, dan abon sehingga bisa dimanfaatkan untuk mencukupi keperluan tambahan lauk Rumah-rumah Amal yang berada dalam naungan Yayasan Global Ikhwan.

Bagi yang berniat berkurban bersama Yayasan Global Ikhwan, bisa menghubungi:

1. Makhfud Saptadi
Sms/WA: 08179198525
Pin BB: 7666C6B7
Email: makhfudsaptadi@gmail.com

2. Henny
Sms : 081372196013
Pin BB: 27BE6F57

***********************************************************************

<a title="donasi rumah amal” " href="http://globalikhwan.or.id/kegiatan-rumah-amal/">rumah anak kesayangan</a>

<a title="donasi rumah amal” " href="http://globalikhwan.or.id/profil-rumah-amal-rumah-anak-kesayanganku/">Rumah Amal Rumah Anak Kesayangan</a


Bagi para dermawan yang ingin mengambil saham dalam berbagai bentuk kegiatan dan pengembangan pendidikan melalui “Rumah Anak Kesayanganku“, donasi dan bantuan baik berupa Wakaf, Zakat, Infaq, dan Shodaqoh/Sedekah dapat disalurkan melalui rekening Yayasan.

BCA a/n Yayasan Global Ikhwan

no rekening: 5035500313

Bantuan  juga dapat berupa:

  • Bahan makanan seperti, beras, gula, garam, minyak, kecap, sayur, lauk pauk, susu.
  • Keperluan harian seperti baby diapers, sabun cuci, sabun mandi, pasta gigi, dan lain-lain.
  • Buku-buku, CD dan VCD pelajaran dan ilmu pengetahuan baik itu baru dan terpakai.
  • Pakaian baru dan terpakai.
  • Sarana dan prasarana sekolah baik itu, meja belajar, papan tulis, komputer, printer, televisi, kipas angin, kulkas, mesin cuci dan lain-lain.
  • Perlengkapan dan alat bermain, baik indoor maupun outdoor.

Monday, July 28, 2014

Kenduri Hari Raya Yayasan Global Ikhwan Indonesia

Terima kasih ya Allah, sholat Id bareng warga di parkiran kompleks Taman Victoria. Khatibnya pas shalat baca bismillah-nya entah ngak dibaca entah dibaca sirr. Sepatutnya dibaca jahar (keras) biar yang pegang mazab syafii ngak was2. Tapi ya sudahlah...

Khatib menyampaikan pesan dengan berapi-api...berkobar-kobar...

Disampaikan pesan bahwa tanda kiamat sudah dekat, yaitu waktu terasa cepat. Setahun terasa sebulan, sebulan tetasa sepekan, sepekan terasa sehari, sehari terasa seperti pelepah korma yang terbakar jatuh dari tandannya, amat singkat.

Disampaikan pula pesan Nabi akan adanya orang yang bangkrut di akhirat. Bawa amalan tapi dituntut orang yang didzalimi. Akhirnya amalannya abis. Kalau sudah abis, keburukan orang yg didzalimi dikasih jadilah tambah2 bangkrut.

Semakin berkobar kala menyampaikan pesan mengenai Palestina. Kita rapatkan barisan, luruskan sof! Ujarnya dengan mantap. Hm....mohon maaf pak khatib, rapatkan barisan dan shof tu, Imamnya siapa? Mana mungkin shof tanpa Imam. Pak Jokowi? Atau Al Baghdadi bos-nya ISIS?Tanya saya dalam hati. Ya...sekedar pertanyaan dalam hati saja. Ngak perlu diambil berat. Ngak perlu diambil kira. Ya sudahlah...kira2 gitu.

Selesai sholat, warga Taman Victoria saling bersalam2an.

Abis tu lanjut jalan ke kantor Yayasan Global Ikhwan Indonesia. Salam2an kita...trus ada sedikit sambutan serta hiburan. Nah...lanjut kenduri. Alhamdulillah.

Menunya ketupat, rendang, gulai ayam, sambal goreng ati, acar dan kerupuk. Oiya, spesial baso juga ada. Terimakasih buat tim dapur yg pontang-panting dari kemarin. Juga kepada kawan2 yang saweran buat suksesnya kenduri hari raya. Selalu terngiang pesan guruku, "ingatlah hari raya bukan untuk bersuka ria, ia hari bersyukur menggembirakan yang tak punya, memberi bantuan mereka yang tidak berada, maaf bermaafan kita sesama kita".

Semoga pontang pantingnya masak banyak dinilai sebagai amalan menggembirakan orang lain, terutama mereka yang tidak punya.

Antri...antri...

Menghayati hidangan

Abah Tukang Baso

Sunday, July 27, 2014

Berbagi Buka Puasa di Rumah Amal Agama Islam Cilegon

Selain Rumah Amal di Sidoarjo Surabaya, bantuan kawan-kawan juga dibagikan ke "Rumah Amal Agama Islam" yang berada di Cilegon. Sejumlah 500rb ditransfer menjadi hidangan buka puasa di "Rumah Amal Agama Islam" selama 2 hari.

Alhamdulillah...semoga bisa menggembirakan anak2 di Rumah Amal dan yang menjadi donatur tambah barokah.




Buka Puasa di Rumah Amal Cahaya Keajaiban Surabaya

Syukur kepada Allah SWT, pada bulan Ramadhan ini orang digerakkan hatinya untuk berlomba lomba dalam kebaikan. Sedekah ditingkatkan, amal digandakan.

Ketika ada kawan pengurus Rumah Amal di Sidoarjo Surabaya mengetahui saya buat program bagi2 nasi bungkus, beliau minta disalurkan juga ke Rumah Amal yang beliau uruskan. Nah, jadinya sebagian dana yang dititipkan kawan-kawan untuk program bagi-bagi nasi bungkus, saya salurkan ke "Rumah Amal Cahaya Keajaiban" yang berada di Sidoarjo Surabaya. Rumah Amal ini menaungi anak2 yatim dan kaum dhuafa.

Karena akad titipanya untuk memberi makan orang yg berpuasa, dana 720rb yang saya transfer saya pesan agar penggunaaannya untuk hidangan berbuka. Dana saya transfer dalam 3 tahap, untuk 3 hari hidangan berbuka.

Hidangan Berbuka di RA Cahaya Keajaiban Surabaya

Sebagian pengurus dan anak2 Rumah Amal

Ramadhan sudah berada di penghujungnya. Moga amalan kita semua diterima. Moga kelalaian kita selama Ramadhan diampuni oleh Allah SWT.

Wednesday, July 16, 2014

Update program bagi2 buka puasa Cafe Ikhwan

Sibuk belanja dan masak, program Cafe Ikhwan berupa bagi2 makanan berbuka puasa kurang terdokumentasi dengan baik. Moga Tuhan ampunkan kekurangan ini. Semoga kawan2 yang telah berpartisipasi mendapat balasan yang berlipat ganda. Semoga, Allah sudi menganugrahkan perasaan takut dan cinta kepadaAllah juga rindu pada Nabi saw.

Sedikit resume sampai tanggal 18 Ramadhan 2014:

Dana masuk 6.950.000,-

Penyaluran:

1. 100 box (2.500.000,-) untuk anak yatim dan kaum dhuafa 

2. 415 nasi bungkus (4.150.000,-) untuk anak yatim, kaum dhuafa, dan 3 masjid di sekitar cafe Ikhwan.

3. 300.000,- disalurkan ke Rumah Amal 'Cahaya Keajaiban' Sidoarjo Surabaya untuk hidangan berbuka puasa di Rumah Amal tersebut.

Adapun sisa belanja, 100% disedekahkan untuk program amal. Moga makin menambahkan keberkatan bulan mulia ini.

Akhir kata, Ramadhan masih ada beberapa hari lagi. Peluang untuk melebihkan amal masih terbuka lebar. 

Yang ingin berbagi melalui kami, silakan hubungi via 
telp/wa: 08179198525 atau 
pin BB: 7666C6B7 atau 
email: makhfudsaptadi@gmail.com



Nasi bungkus sapi lada hitam

Ayam goreng mentega

Ayam bakar barbeque

Ayam goreng

Wednesday, July 2, 2014

Memburu Keampunan Tuhan

Bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, rahmat dan pengampunan. Bulan yang Tuhan hadiahkan kepada hamba2Nya untuk menebalkan rasa kehambaan.
Rasa hamba wajib ada pada seorang hamba. Seorang hamba yang rasa tuan, tentu dibenci tuannya.

Kalau bukan Tuhan yang beri makan, niscaya hamba itu akan kelaparan. Baiknya Tuhan yang memberi makan dikala hambaNya lapar. Diselain bulan Ramadhan, Tuhan bebaskan hambaNya untuk makan makanan yang halal dan tayyib (baik). Tapi di bulan spesial ini, Tuhan hendak menyadarkan bahwa manusia itu hamba. Ada rasa lapar yang diprogramkan. Moga timbul kesadaran dalam diri manusia bahwa dia adalah hamba.

Di bulan mulia ini digalakkan untuk melebihkan sedekah. Berbagi pada sesama. Menjadi pemurah tidak akan menjadikan kita miskin bukan?

Cafe Ikhwan tempat saya bertugas mengadakan program menyalurkan makanan untuk berbuka pada anak2 yatim, fakir miskin, dan juga ke masjid2 tempat orang berkumpul untuk berbuka bersama. Tujuannya untuk menggembirakan hamba Allah yang berpuasa dengan hidangan yang lezat, halal, dan berkat.

Saya hubungi beberapa kawan dan kolega, alhamdulillah memberikan respon yang cukup positif. Terimakasih atas partisipasi dan ke-pemurah-annya :) 

Dengan menawarkan menu nasi bungkus +ayam/ikan+sayur/lalapan+sambal 10rb, moga usaha menyalurkan nasi bungkus untuk berbuka ini diberkahi Allah. Semoga Allah balas dengan memberikan keampunan atas segala khilaf dan salah selama ini. Semoga Allah anugrahkan rasa kehambaan yang semakin tebal.


Nasi Box untuk anak yatim dan yg memerlukan

Rombongan anak yatim mengambil nasi box dan sedikit angpao

Nasi bungkus 10rb (nasi+ayam goreng+capcay+sambal)

Nasi bungkus siap dikirim ke masjid

Nasi bungkus 10rb (nasi+ayam goreng mentega+lalapan+sambal)

Saturday, May 3, 2014

Liputan Acara Syukuran 1 Mei 2014 oleh TVRI

Wartawan TVRI ada yang datang dalam Majelis Syukuran pernikahan 6 pasang staff  Global Ikhwan pada tanggal 1 Mei kemarin. Siang tadi, liputannya disiarkan.

Karena dah lama tidak nonton siaran TV secara konvensional, tadi terpikir untuk menonton secara live streaming. Sekarang memang sudah eranya TV ditonton secara live streaming.

Bukan kebetulan, Tuhan telah atur sejak azali, kang irwan tiba2 datang menenteng laptop. Trus saya bilang, tonton berita tvri jam 12-nya live streaming aja kang. Sekalian direkam kang biar kawan2 yang lain bisa nonton nantinya.

"gimana caranya?" tanya kang irwan.

Tanya mbah gugel, suruh donlot sofware live streaming recorder. Untung cuma 20 mb.

Nah, silakan tengok hasilnya: