Saya belum pernah menjejakkan kaki di Taif. Saya hanya pernah mendengar namanya. Satu tempat yang bersejarah dan penting terkait dengan dakwah Nabi Muhammad saw.
Lokasi Taif masih berdekatan dengan Mekah
Setiap kisah yang dialami oleh Baginda Nabi begitu menginsyafkan kita. Kesabaran Baginda menghadapi kaumnya untuk memperkenalkan Allah SWT agar dicintai dan ditakuti perlu kita contohi.
Bumi Taif menjadi saksi ketika Nabi Muhammad saw dilempari batu hingga berdarah kaki Baginda. Ketika itu datang malaikat Jibril bersama-sama Malaikat penjaga buki, sekiranya Baginda berkenan, maka bumi Taif akan ditelangkupkan sepertimana yang terjadi di Laut Mati. Tetapi BAginda begitu sabar dan sayang kepada umatnya. Baginda Nabi Muhammad saw masih berharap kelak anak cucu kaum yang menolaknya waktu itu dapat masuk Islam.
Saya pun lihat foto2 di Google Map, untuk melihat suasana sekeliling Taif.
suasana pegunungan di sekitaran Taif
Semoga, suatu ketika nanti dapat rezeki mengunjungi Taif.
Malam ini saya ingin sedikit mengulas kisah Nabi Muhammad saw makan rumput kering. Membaca kisah pemboikotan Qurays terhadap Bani Abdul Mutalib, Bani Abdul Manaf, dan Bani Hasyim, mengingatkan saya sebuah pertanyaan: "Apakah kalian pernah mengalami ujian tidak dapat makanan dalam sehari penuh?".
Dalam pengalaman kita bersama, rasanya hampir-hampir tidak ada yang pernah Allah uji dengan ketiadaan rezeki berupa makanan seharian penuh. Dalam kondisi paling susah sekalipun, dalam hari itu masih ada rezeki makanan yang Allah hantar kepada kita. Kalau ada yang pernah ngak dapat makanan 1 hari full apalagi 2 hari berturut-turut, silahkan share pengalamannya di kolom komen.
Dari sudut makan pun sepatutnya kita berterimakasih kepada Tuhan. Walaupun tiap-tiap hari kita tidak memperdulikan Tuhan, Tuhan senantiasa memberi kecukupan makan minum kepada kita. Di sisi lain kita perlu merasa cemas juga, takut-takut rezeki yang Allah bagi itu adalah bentuk istidraj (Rezeki dibagi dengan kemurkaan Tuhan). Ya....apabila kita makan dengan perasaan bahwa makanan itu datang karena usaha kita kemudian berdoa pun sudah ngak ingat lagi, kalaupun ingat berdoa hanya karena kebiasaan tapi hampa tanpa penghayatan.
"Allahumma bariklana fii ma razaqtana waqina 'adza bannar"
Cukup jelas dalam doa sebelum makan, Rasulullah saw ajarkan agar kita memohon perlindungan dari api neraka. Loh, apa kena mengena-nya makan dengan neraka? Takut....sepatutnya kita takut karena sebab makanan kita ditempatkan di neraka.
Mengapa? Kalau soal dari mana asal makanan itu sudah jelas-lah. Makanan yang kita makan perlu kita dapatkan dengan cara yang halal. Bukan makanan yang didapat karena mencuri. Dzat makanan yang kita makan pun perlu dipastikan halal.
Itu aspek-aspek lahirian yang bisa kita nilai bersama bahwa makanan dapat membawa ke neraka.
Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah aspek rohaniah ketika makan. Adab dalam menghadapi hidangan adalah mengingat-ingat jasa-jasa orang yang telah menjadikan makanan itu terhidang. Tentu tak sanggup jemari kita menghitung siapa saja yang berjasa. Mulai dari petani sampai terhidang di hadapan. Itulah hikmah doa Allahumma bariklana, Ya Allah berkahilah KAMI. Ya...KAMI itu saya dan semua orang yag berjasa dalam menyediakan makanan.
Kembali kepada kisah Nabi Muhammad saw makan rumput kering. Peristiwa pemboikotan itu tidak hanya berlaku sehari dua hari loh. 3 (TIGA) TAHUN saudara-saudara! Sungguh dasyat pengorbanan dan perjuangan BAginda NAbi Muhammad saw dan para Sahabat di peringkat awal perjuangan memperkenalkan Allah agar dikenali, dicintai dan ditakuti.
Allahumma sholli 'ala sayidina muhammad, wa 'ala alihi wa sohbihi ajma'in. Semoga Allah meningkatkan darajat mereka semua.
Judulnya mirip judul sinetron, "Hidayah Yang Tercabut". Itulah perkara beberapa hari ini yang cukup menyita pikiran dan perasaan saya. Ini bermula dari ulasan Tuan Rasyidi ketika mengulas kisah Al Walid bin Mughirah. Saya sudah berulang kali sebenarnya membaca kisah Al Walib bin Mughirah ini. Namun, baru setelah diungkai oleh Tuan Rasyidi barulah saya menangkap hikmah besar tersebut.
Al Walid bin Mughirah ini kan pembesar Qurays, ahli syair, dan termasuk orang yang bijak dikalangan Qurays. Ketika itu dia ditugaskan untuk berdialog dengan Rasulullah saw. Saat berdialog tersebut, hidayah Allah campakkan dalam hatinya. Dia mengakui bahwa apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw adalah kebenaran dari Tuhan. Bahkan dia sempat mencoba mempengaruhi pembesar Qurays lain bahwa yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw adalah kebenaran. Namun, adanya kepentingan dalam hatinya, dia takut kehilangan pengaruh dan kekuasaannya di kalangan Qurays, maka dia memilih untuk menghina Rasulullah saw dan secara resmi memberi label tukang sihir kepada Baginda Rasulullah saw. Karena itulah Tuhan cabut hidayah dari dalam hatinya.
Kalau dalam kasus Uqbah bin Abi Muayyit, dia bahkan sempat mengucap dua kalimat syahadat. Tapi karena dia takut kehilangan kawan baiknya, dia memilih menentang kebenaran yang sudah dia akui.
Di saat saya sedang menulis perkara ini pun, tiba-tiba ada pesan yang masuk ke inbox saya.
Pakdhe, Aku mau curhat, bagaimana cara kasih tahu temen deket kita muslim yg kok saya liat dia malah menjelek-jelek kan muslim.
saya hanya merespon: doakan...doakan secara khusus. Beliau orang yang cukup banyak berjasa pada kita. Semoga, Tuhan ampunkan.
Saya tutup catatan saya ini dengan mengambil satu pengajaran dari Kisah Sayidina Abu Dzar Al Ghifari. Poin penting dalam kisah islamnya sayidina Abu dzar adalah begitu dapat hidayah, dia bersungguh-sungguh untuk mencari pimpinan. Walaupun untuk itu dia terpaksa TIDAK MAKAN SELAMA 18 HARI. Sengaja saya tulis besar karena itulah dasyatnya pengorbanan Sayidina Abu Dzar. Sanggup beliau tidak makan selama 18 hari hanya demi mendapatkan pimpinan dari Baginda Nabi Muhammad saw. Apakah Rasulullah saw tidak tahu Sayidina Abu Dzar ngak makan? Apakah Rasulullah saw sebegitu tega? Itulah KEAJAIBAN. Kebenaran itu mahal. Bayarannya mahal. Ketika kebenaran dari Tuhan dipegang erat, Tuhan Yang Maha Ajaib itu pun melakukan keajaiban. Hanya dengan minum air zam-zam, Sayidina Abu Dzar kenyang selama 18 hari di Mekah. Allahu Akbar. Hidayah ini adalah perasaan yang Tuhan campakkan ke dalam hati manusia untuk menerima kebenaran, dorongan untuk berbuat baik. Dapat hidayah saja tidak cukup. Perlu mendapat Taufik juga. Taufik itu bermaksud, penerimaan terhadap kebenaran dan dorongan untuk berbuat baik tersebut dapat DIIMPLEMENTASIKAN dengan tepat sesuai kehendak Tuhan Pemilik Kebenaran. Karena itulah begitu dapat hidayah Sayidina Abu Dzar berusaha sungguh-sungguh untuk dapat juga Taufiq. Jadi, kalau menutup majlis, ucapkan "wabilllahi hidayah wat taufiq" bukan "wabillahi taufik wal hidayah" soalnya Hidayah dulu baru Taufiq :)
********************************************
Setelah mengulas mengenai kisah Al Walid bin Mughirah, paginya Tuan Rasyidi mengingatkan sebuah sajak hikmah dari Abuya Ashaari At Tamimi:
Jagalah Hidayah atau Petunjuk Dari Tuhan
Hidayah atau petunjuk adalah di tangan Tuhan
Manusia boleh mengusahakan.
Bahkan wajib manusia berusaha mendapatkan hidayah dari Tuhan
Karena hidayah itu mahal nilainya
Tidak semua orang berhasil mendapatkannya
Mungkin setiap seratus ribu, seorang yang menemukan
Bahkan setengah orang, sudah dapat pun boleh hilang
Hidayah ini sama ada belum dapat atau sudah dapat kemudian hilang.
Di waktu itu Allah Taala melihatkan kekuasaan-Nya
di depan mata sekalipun, dia tidak mengambil pengajaran.
Kebesaran Tuhan terjadi, dia pandang biasa,
Khawariqul ‘adah berlaku begitu terserlah tanpa logik, dikatakan itu kebetulan.
Berbagai-bagai peristiwa dan tragedi berlaku.
Itu bencana alam, perkara banjir, biasalah !!!.
Setengah orang rasa tersinggung jika dikaitkan dengan Tuhan
Hatinya sakit jika dibabitkan dengan Tuhan
Bahkan orang yang pernah mendapat petunjuk, sudah tidak mampu mentafsirkan.
Seolah-olah mereka kehilangan pegangan atau pedoman.
Tersesat jalan tidak tahu tujuan.
Kehidupan mereka lebih teruk daripada sebelumnya
Seolah-olah tidak pernah bertemu dengan lampu suluh kehidupan.
Rupanya orang yang pernah mendapat cahaya, bila kehilangan cahaya, lebih teruk daripada orang buta.
Atau lebih gelap lagi daripada orang yang tidak pernah mendapat cahaya.
Jagalah petunjuk atau hidayah dari Tuhan
Hargailah dan syukurilah dan suburkanlah
Karena jika Tuhan marah, ditariknya semula.
Kita lebih tersesat daripada orang yang sudah tersesat,
Kita lebih buta daripada orang yang sudah buta,
Kita lebih bergelap daripada orang yang telah bergelap.
Hari sabtu, banyak yang liburan. Liburan jangan cuman digunakan untuk bermalas-malasan. Banyak aktivitas bermanfaat yang bisa dilakukan untuk mengisi liburan.
Adanya libur hari sabtu ini rasanya belum lama. Seingat saya, waktu SMA dulu masih menjalani 6 hari kerja. Sabtu masih masuk dan orang-orang kantoran pun masih pada ngantor. Sabtu mulai dijadikan hari libur kalau gak salah inget sekitar tahun 2002 atau 2003. Waktu itu jaman saya kuliah.
Di jogja, sabtu dijadikan hari libur malah baru tahun 2011 atau 2012. Jogja termasuk yang agak lambat menerapkan sistem 5 hari kerja.
Lucu ya, Indonesia yang mayoritas Islam, menjadikan hari sabat (Sabtu) menjadi hari libur. Orang Yahudi di Indonesia berapa puluh orang aja sih? hehehe... Kalau di Indonesia banyak Yahudi ya wajar aja sih, sabtu kan orang Yahudi beribadah.
Tapi ya mungkin Indonesia terikat sistem Internasional jadi ya ikut-ikutan menghormati hari suci orang Yahudi :)
Ah...kok jadi mbahas mengapa sabtu jadi hari libur. Gak penting banget hehehe....toh yang jualan bakso hari Sabtu tetap kerja :D
Kembali ke topik, mari kita isi ini dengan bacaan yang bermanfaat.
Nah, bagi pembaca blog saya ini, ada buku bagus yang bisa dibaca untuk mengisi weekend. Baca 1 Bab selama 2 hari tentu bukan hal yang memberatkan. Ini adalah BAB 1 dari buku "Catatan Sejarah Rasulullah saw" yang menceritakan mengenai peristiwa sejarah sebelum kedatangan Rasulullah saw.
Yuk Silakan simak. langsung klik aja link-nya ya (ada 7 sub bab):
Diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa tatkala Nabi Muhammad SAW melihat gunung Uhud, Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya: “Sesungguhnya Uhud adalah gunung yang mencintai kita, dan kita juga mencintainya”. (Kitab Shahih Muslim). Tiba-tiba saya teringat catatan lama saya ketika mengunjungi Jabal Uhud. Juga teringat dengan pilunya kisah Nabi Muhammad saw ketika menghadapi ujian di Jabal Uhud.
Dalam kunjungan ke Madinah bulan Ramadhan 1432 H silam (tahun 2011 M), saya diajak expedisi ke Gunung Uhud oleh Pak Nur. Pak Nur menjadi driver sekaligus mutawwif bagi kami bertiga; saya, Ustad Saiful Doldiri Malaysia, dan Ustad Fikri Abdul Wahid Australia. Terimakasih ya Allah, dalam ekspedisi kecil ini kami diantar menggunakan Nissan Armada.
Nissan Armada, mobil 5600 cc yang cukup mantap tongkrongannya
Tentu sudah sampai kepada kita semua mengenai kisah peperangan Uhud. Di waktu itu ada sekumpulan pasukan pemanah yg diarahkan untuk tetap bertahan di jabal rummat apapun yg terjadi. Akan tetapi mereka tidak taat dan meninggalkan pos untuk ikut berebut harta ghanimah. Akibat ketidak taatan itu, Khalid bin Walid yg memimpin pasukan berkuda musuh (sebelum beliau masuk Islam) berhasil menyelinap masuk dan memukul pasukan kaum muslimin. Sampai Nabi patah gigi dan mundur sampai ke gua di lereng gunung uhud.
Lokasi terdesaknya Baginda Nabi Muhammad saw
Pak Nur membawa kami sampai ke lokasi lereng Uhud tempat Nabi Muhammad saw tepojok dan mengalami patah gigi. Sungguh pilu apabila mengenang peristiwa itu.
Celah bukit tempat Nabi Muhammmad saw berlindung
Jabal Rumat, saksi bisu ketidaktaatan pada pemimpin
Sayidina Hamzah adalah salah seorang yang syahid dalam pertempuran di Uhud ini.
Karena kecintaan Rasulullah saw pada syuhada Uhud, beliau selalu ziarah ke Jabal Uhud hampir setiap tahun. Kemudian perilaku Baginda Nabi Muhammad saw ini juga diikuti oleh beberapa sahabat setelah Rasulullah saw wafat. Bahkan, sayidina Umar dan
sayidina Abubakar, selalu mengingatkan Nabi Muhammad saw jika perjalanannya telah
mendekati Uhud.
Rasulullah
saw bersabda, ”Mereka yang dimakamkan di Uhud tak memperoleh tempat lain
kecuali ruhnya berada di alam burung hijau yang melintasi sungai
Surgawi. Burung itu memakan makanan dari taman surga, dan tak pernah
kehabisan makanan. Pada syuhada itu berkata siapa yang akan menceritakan
kondisi kami kepada saudara kami bahwa kami sudah berada di surga.”
Maka
Allah SWT berfirman ,” Aku yang akan memberi kabar kepada mereka.” Dengan sebab itu, kemudian turunlah ayat, ”Dan janganlah mengira
bahwa orang yang terbunuh di jalan Allah SWT itu meninggal" (Surat 3: ayat 169)
Hidup dan mati itu Allah yang menentukan. Setiap jiwa akan merasakan mati, itulah kekuasaan dan kehebatan Allah. Umur hidup manusia sudah Allah tentukan dan telah terlulis di Lauh Mahfudz.
Secara adat, setiap manusia dilahirkan sekali dan akan mati sekali. Adatnya juga, manusia dilahirkan dengan sebab perkawinan antara ayah dan ibunya.
Adat itu Allah yang ciptakan, untuk kemudahan manusia. Jadi, bila manusia ingin punya anak, ya kawin. Demikian juga hidup yang ada perlu dimanfaatkan betul-betul untuk mempersiapkan kehidupan setelah kematian karena mati bisa terjadi kapan saja dan setelah mati adatnya manusia tidak bisa hidup lagi.
Untuk menunjukkan bahwa adat dan sebab itu Allah yang ciptakan maka Allah buat beberapa kejadian yang menyalahi adat. Ada satu-dua kejadian yang berlaku secara khawariqul adah, ajaib, ngak masuk akal, ngak bisa dinalar, ngak ikut adat.
Contohnya: NAbi Adam Allah cipta dari tanah, tanpa ada ibu dan bapa. Siti Hawa dicipta dari rusuk Nabi Adam, ada bapa tanpa ibu. Nabi Isa dilahirkan oleh Siti Maryam, ada ibu tanpa ayah.
itu semua adalah peristiwa-peristiwa yang menunjukkan bahwa Allah yang Maha Berkuasa mencipakan sebab-sebab bukan sebab yang menciptakan. Jadi, kita perlu yakin bahwa sebab-sebab yang kita usahakan itu Allah yang berkuasa. Kita mengusahakan sebab karena kita hamba yang disuruh berusaha. Jadi kalau kita mendapat kesuksesan dan kejayaan kita tidak akan takabur, karena kesuksesan dan kejayaan itu Allah yang menciptakan.
Kembali ke soal adatnya mati itu hanya sekali. Kenapa adat, karena pengalaman kita melihat setiap orang yang mati kemudian dikubur ngak bisa hidup lagi. Tapi sebenrnya tidak demikian. Ada beberapa peristiwa yang Allah buat untuk menjadi pengajaran kepada kita bahwa Allah berkuasa menghidupkan dan mematikan sesuka Allah. Allah Maha Berkehendak.
Dalam kitab Tanbihul Ghafilin (Peringatan Bagi Yang Lupa) disebutkan sebuah kisah Sam Bin Nuh yang hidup dua kali.
Kitab Tanbihul Ghafilin
Diriwayatkan
bahwa Nabi Isa A.S. telah menghidupkan orang yang mati dengan izin
Allah S.W.T. Orang-orang kafir telah berkata: "Wahai Isa, sesungguhnya
kamu telah menghidupkan orang yang baru mati, mungkin mereka yang kamu
hidupkan itu belum betul-betul mati. Kalau kamu orang yang benar maka
coba kamu hidupkan orang yang mati pada zaman pertama dahulu supaya
dapat kami lihat." Nabi
Isa berkata: "Katakanlah orang yang hendak kamu lihat?" Orang-orang
kafir berkata: "Hidupkanlah Sam bin Nuh supaya kami dapat lihat
kebenaranmu." Nabi
Isa A.S. pun pergi ke kubur Sam bin Nuh lalu mengerjakan solat 2 rakaat
dan berdoa kepada Allah. Maka dengan izin Allah S.W.T. maka hiduplah
Sam bin Nuh. Setelah
Sam bin Nuh dihidupkan, Nabi Isa melihat rambut dan janggutnya sudah
putih, lalu Nabi Isa A.S. berkata: "Wahai Sam kenapa rambut kamu putih
beruban padahal rambut kamu tidak begini sebelumnya?" Sam
bin Nuh berkata: "Aku telah mendengar panggilan kamu, aku sangka Kiamat
telah tiba maka rambut dan janggutku menjadi putih beruban sebab
takutnya hari Kiamat." Nabi Isa A.S. berkata: "Sudah berapa lama kamu meninggal?" Sam
bin Nuh berkata: "Aku telah meninggal sejak 4000 tahun, tetapi sampai
sekarang belum lagi hilang sakitnya sakaratul maut dan cukup pedih."
Demikianlah Nabi Muhammad saw telah menceritakan kepada kita kisah Nabi Isa as tersebut. Dalam kisah Nabi Muhammad saw yang merupakan Sayidul Annbiya wal Mursalin, pemimpin seluruh Nabi dan Rasul tentu memiliki juga mukjizat ini. Umar bin Sawad mengatakan bahwa Imam
Syafi’i berkata kepadanya, “Apa yang Allah berikan kepada para nabi maka
hal itu pun diberikan kepada NabiMuhammad saw.
Kitab Jami Karamatul Aulia
Dalam kitab "Jami Karamatul Auliya", disebutkan:
Dalam kitab Al-'Ulum al-Fakhirah fi al-Nazhri fi Umur al-Akhirab, Sayyid
`Abdurrahman bin Muhammad al Tsa`labi al-Ja`fari al-Maghribi, yang dimakamkan
di Aijazair, mengemukakan riwayat Anas r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah
Saw berkata kepada Fari'ah, "Sesungguhnya anak laki-lakimu, Ibrahim, telah
mati." Fari'ah lalu berkata, "Sungguhkah,ya Rasululullah?" Rasul
menjawab, "Ya." Fari'ah lalu berdoa, "Segala puji bagi Allah.
Ya Allah, Engkau tahu bahwa aku berhijrah kepadaMu dan kepada Nabi-Mu dengan
harapan agar Engkau menolongku dalam setiap kesulitan. Oleh karena itu, jangan
Engkau timpakan musibah ini atasku." Rasulullah membuka penutup wajah anak
Fari'ah, kemudian anak itu hidup kembali dan makan bersama kami.
Hikayat ini juga dituturkan oleh Ibnu Qattan dan `Iyadh dari Anas r.a. dengan
redaksi, `Ada seorang pemuda dari golongan Anshar meninggal dunia. Ia mempunyai
seorang ibu yang lemah dan buta. Kami mengafani jenazahnya dan menghibur hati
ibunya agar sabar. Kemudian ibunya bertanya, `Benarkah putraku telah mati?'
Kami menjawab, `Ya.' Ibunya lalu berdoa, `Ya Allah, Engkau tahu bahwa aku benar-benar
berhijrah kepada-Mu dan kepada Nabi-Mu.' Kisah selanjutnya sama dengan hadis
di atas. Riwayat lain dan Ibnu Qattan menceritakan bahwa ketika itu, Allah Swt.
menghidupkan anaknya, lalu anak itu makan di hadapan Rasululahh Saw.
Kisah tersebut juga saya kemukakan dalam bab IV kitab Hujjatullah 'ala al-Alamin.
Anas r.a. berkata, "Ketika kami sedang berada di beranda masjid di hadapan
Rasulullah Saw, datanglah seorang perempuan tua dan buta yang ikut hijrah membawa
putranya yang telah baligh. Tak lama kemudian, putranya terkena penyakit yang
scdang mewabah di Madinah. Anak itu sakit beberapa hari, kemudian meninggal
dunia. Nabi Muhammad Saw. menutupkan mata anak itu dan memerintahkan kami untuk mempersiapkan
pemakamannya. Ketika kami akan memandikannya, Rasulullah Saw berkata, Anas,
panggillah ibunya dan beritahukan kabar ini kepadanya.' Aku memberitahu ibunya,
ia datang lalu duduk di depan kedua kaki anaknya. Ia memegang kedua kaki anaknya,
dan bertanya, 'Benarkah anakku mati?' Kami menjawab, 'Ya.' Ibu itu berdoa, 'Ya
Allah, Engkau tahu aku benar-benar telah menyerahkan diri kepada-Mu dengan sukarela,
meninggalkan berhala-berhala dengan sungguh-sungguh, dan berhijrah kepada-Mu
karena rasa cinta.Ya Allah, janganlah Engkau masukkan aku ke dalam golongan
penyembah berhala, dan janganlah Engkau timpakan musibah yang tidak mampu aku
pikul.' Demi Allah, belum sempat ibu itu menyelesaikan doanya, kedua kaki anaknya
bergerak-gerak dan menyibakkan pakaian yang menutupi wajahnya. Kemudian anak
itu makan bersama kami dan Rasulullah Saw. Anak itu hidup kembali sampai Nabi
Saw dan ibunya wafat." (HR Ibnu 'Adiy, Ibnu Abi Dunya, Al-Baihagi, dan
Abu Na'im)
Sebagai tambahan, dalam kitab Dala'ilun Nubuwwah karya Imam Bayhaqi, dari buku berjudul "Benarkah
Nabi Muhammad & Umatnya Lebih Istimewa" hal32, By Al-Imam Al Hafidz
Ahmad bin Muhammad Al Qasthalani, Dikisahkan sebuah kisah seorang lelaki yang berkata kepada Nabi Muhammad saw "Saya tidak akan beriman kepadamu sehingga kamu mampu menghidupkan
putriku untukku." Dalam kisah itu disebutkan bahwa Nabi mendatangi
kuburannya lalu berkata, "Wahai fulanah." Lalu anak itu berkata, "Aku
sambut panggilanmu dan dengan setia menerima perintahmu serta semoga
kebahagiaan senantiasa dilimpahkan kepada Baginda Rasulullah saw
Dan......Nabi Muhammad saw ini sangat istimewa. Karena jangankan orang mati (yang dulunya pernah hidup) dapat dihidupkan semula, benda mati pun dapat dihidupkan. Jabar bin Samurah meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, “Aku bisa mengenal batu-batu yang biasa mengucapkan salam
kepadaku, bahkan ketika aku belum menjadi Rasul. Bahkan sekarangpun aku
bisa mengenalinya.” (Hadits riwayat Muslim dalam Kitab Shohih Muslim
(1782)
Ali bin Abu Thalib meriwayatkan, "Saya sedang bersama nabi saw di Mekkah. Setiap gunung dan pohon yang dilewatinya mengucapkan,
'As-Salaamu 'alayka yaa rasulallah' (Semoga keselamatan selalu
menyertaimu, wahai rasulallah),'" (Hadits Muslim dalam Misykat).
Ikrimah bin Abu Jahal ra. Dia berkata,
"Jika kamu memang benar seorang nabi, maka panggilah batu yang ada
diseberang itu agar berenang dan tidak tenggelam." Lalu nabi
mengisyaratkan tangannya dan batu itu pun terlepas dari tempatnya dan
mengapung di atas air hingga sampai kepada nabi saw.
Begitu menyaksikan itu Ikrimah bersaksi atas kerasulannya, nabi
berkata kepadanya, "Ini cukup bagimu." Ikrimah berkata, "Batu itu
kembali lagi hingga tempatnya semula."
Untuk dapat menghayati perjuangan Rasulullah saw memperkenalkan Allah hingga dikenali, dicintai dan ditakuti supaya kita dapat merasakan rindu serindunya pada Nabi Muhammad saw, silakan simak:
Dalam perjalanan untuk menghayati kisah Nabi Muhammad saw, ada beberapa paket yang perlu di disiplinkan. Paket yang utama adalah paket sholat. Sholat adalah hal yang menjadi keutamaan.
Dipahamkan kepada kita bahwa Sholat adalah tiang agama, kokoh tiangnya maka kokoh agamanya. Sholat juga merupakan amalan pertama yang akan dihisab. Bila baik sholat maka semua amal akan dinilai baik. Sholat juga merupakan amalan yang dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Jadi, sholat yang dilaksanakan dengan penuh khusyuk dan khuduk akan melahirkan pribadi agung yang begitu cinta dan takut kepada Allah dan rindu kepada Nabi Muhammad saw.
Untuk membantu terlaksananya sholat yang penuh khusyuk tersebut, kehidupan keseharian kita perlu mengikuti jadwal sholat. Bukan malah sebaliknya, sholat mengikuti jadwal kehidupan keseharian kita. Bila bekerja, maka pekerjaan itu dilaksanakan di antara waktu sholat. Bila belajar, maka belajar itu di lakukan diluar jadwal sholat. Jangan sampai karena bekerja, karena meeting, karena belajar, waktu sholat diketepikan. Sholat diberi prioritas nomer sekian sehingga terkadang sholat dilaksanakan diujung waktu.
Untuk membantu terlaksananya sholat yang khusyuk, guru saya mengajarkan untuk bersholawat 30 menit sebelum masuk waktu sholat. Jadi, pertemuan (meeting) dengan Allah itu ditunggu dengan menghubungkan hati dan ruh dengan Nabi Muhammad saw. Kita sangat mengharapkan agar Nabi Muhammad saw dengan syafaatnya, membawa hati kita khusyu dengan Allah.
Shalawat yang diistiqomahkan untuk dibaca sebelum sholat adalah sholawat Badawi.
Berikut ini videonya:
terjemahannya:
Ya Allah sampaikanlah salam rindu kepada,
Cahaya sebagai sumber segala cahaya,
rahasia segala rahasia,
obat seluruh penyakit,
anak kunci segala kejayaan,
Dialah yang kami sangat rindu,
Nabi Muhammad yang terpilih,
keluarganya yang suci,
serta para Sahabat yang menjadi pilihan,
sebanyak bilangan nikmatmu dan kemulianmu ya Allah.
Syaikh Ahmad Badawi mempunyai nama lengkap Syeikh Ahmad bin Ali Bin Yahya Al-Badawi. Beliau lahir di Kota Fes, Maroko pada
tahun 596 H./1199 M. Syeikh Ahmad Badawi merupakan seorang imam sufi, wali qutub dan pendiri
thariqah Al-Badawiyah. Beliau dijuluki Al-Badawi karena menutup wajahnya
seperti yang dilakukan oleh orang Arab Badui. Kakek beliau sebelumnya tinggal di
Jazirah Arab. Kakek beliau datang di Fes Maroko karena semakin brutalnya
aksi Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi terhadap kalangan Alawiyin.
Nasab Al-Badawi dari jalur ayah sampai kepada sayyidina Husein bin Ali,
bin Fathimah Az-Az-Zahra' binti Rasulillah shallallahu 'alaihi wa
sallam. Berdasarkan kesepakatan ulama nasab, dan ahli sejarah, secara
lengkap nasab beliau adalah Ahmad bin Ali bin Yahya bin Isa bin Abu
Bakar bin Ismail bin Umar bin Ali bin Utsman bin Husein bin Muhammad bin
Musa bin Yahya bin Isa bin Ali bin Muhammad bin Hasan bin Ja'far
Az-Zaky bin Ali Al-Hadi bin Muhammad al-Jawwad bin Ali Ridlo bin Musa
al-Kadhim bin Ja'far As-Shadiq bin Muhammad al-baqir bin Ali Zainal
Abidin bin Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib.
Sebagian ahli Nasab dan sejarah meragukan sampainya rantai nasab beliau
kepada rasulullah shallallahu alaihi was sallam. Diantara mereka adalah
Imam Fakhruddin Ar-Razi yang mengatakan bahwa Hasan bin Ja'far bin Ali
Al-Hadi adalah orang yang masih diperselisihkan oleh para ulama apakah
ia mempunyai anak atau tidak. Sedangkan kalangan Syiah membenarkan
rangkaian nasab Al-Badawi. Mereka menisbatkannya kepada Ali bin Ja'far
Az-Zaky bukan kepada Al-Hasan bin Ja'far Az-Zaki, karena Al-Hasan tidak
mempunyai keturunan.
Beliau hijrah ke Mekah saat berumur 7 tahun (Tahun 603 H./1206 M),
dimana perjalanan kesana memakan waktu empat tahun, tiga tahun
diantaranya beliau bermukim di Mesir. Di Mekah berdasarkan sumber-sumber
dari kalangan shufiyah, beliau selalu beristiqamah melakukan thawaf
semenjak kecil, setelah itu beliau masuk ke sebuah gua di gunung Abil
Qubais untuk melakukan Ibadah. Amalan ini beliau lakukan hingga belaiu
berumur 38 tahun saat beliua melakukan safar ke Irak, bersama kakak
kandungnya, Hasan.
Di Irak beliau menziarahi berbagai kota tempat bermukim atau
bersemayamnya para ulama, diantaranya ke Kota Syaikh Ahmad bin Ali
Ar-Rifa'i, pusat thariqah Rifa'iyah. Juga ke makam Syaikh Abdul Qadir
Al-Jilani, kemudia ke makam Syaikh Adiy bin Musafir Al-Hikari mu'assis
thariqah Al-Adawiyah.
Ketika al-Badawi berada di sebuah desa dekat Mosul, terjadi perselisihan
antara dirinya dengan seorang wanita bernama Fatimah. Wanita ini cantik
dan kaya. Tetapi ia senang membuat lelaki jatuh cinta kepadanya.
Demikian pula ia lakukan hal itu kepada Al-Badawi, tetapi ia tidak
mampu, hingga ia merayu al-Badawi untuk menganinya. Diakhir cerita si
wanita bertaubat di tangan al-Badawi.
Sekembali dari Irak pada tahun 635 H, Al-badawi mempunyai kebiasaan yang
tidak pernah terlihat sebelumnya. Beliau semakin banyak melakukan
shalat dan puasa, banyak berdiam diri dan sering menengadahkan wajah ke
langit. Fatimah saudara perempuan beliau mengadukan kepada kakaknya
Hasan: "Wahai saudaraku! Sesungguhnya saudara kita Ahmad selalu
qiyamullail sepanjang malam. Selalu mamandang langit dan siang hari ia
berpuasa, hingga bulatan hitam matanya menjadi mereka bagaikan bara. Dia
pernah selama 40 hari tidak makan dan tidak minum".
Hijrah ke Mesir
Pada tahun yang sama setelah pulang dari Irak, beliau memutuskan untuk
melakukan perjalanan ke Mesir dengan tujuan kota Thantha. Perjalanan ini
bukan hanya sebatas ziarah, tetapi sebuah hijrah berdasarkan mimpi
beliau. Begitu Syaikh Abdul Wahhab Asy-Sya'rani menuturkan.
Sebenarnya terdapat banyak pendapat ulama tentang alasan Al-Badawi
hijrah ke Mesir, dan menetap di Thantha. Dikatakan bahwa beliau
mempunyai pemikiran bahwa secara geografis Thantha berada di tengah
diantara Kairo dan Iskandariyah, yakni berada tepat di tengah Delta
sungai Nil. Dengan letak yang seperti ini, diharapkan penyebaran
thariqah yang beliau bangun dapat cepat menyebar, ketika beliau menetap
di sana.
Di Thanta beliau menetap di rumah seorang saudagar bernama Ibnu Syuhaith
atau Ruknuddin. Beliau menetap di loteng rumah yang berdekatan dengan
masjid Al-Bahiy ini hingga selama 12 tahun dan seluruhnya dihabiskan
dengan tidak makan dan minum setiap 40 hari.
Dalam kitab-kitab tashawuf, disebutkan karama-karamah yang dinisbatkan
kepada Syaikh Ahmad Al-Badawi. Diantaranya yang paling masyhur adalah
beliau mampu membebaskan para tawanan Mesir dari tangan tentara Eropa
saat terjadi perang Salib. Atas kejadian ini dalam catatan sejarah Mesir
terkenal sebuah ucapan, yaitu "Allah, Allah, Ya Badawi, Jabil Yusra",
yang berarti Al-Badawi telah datang membawa tawanan.
Saat ini di Thantha, setiap tahun ada dua peringatan untuk mengenang
beliau, yaitu di bulan April dan bulan Oktober. Peringatan di bulan
Oktober ini adalah peringatan kelahiran beliau, yang merupakan
peringatan terbesar di Mesir secara umum. Pada saat iru sekitar dua juta
peziarah memenuhi masjid beliau yang berada di tengah di kota Thantha.
Sayyidi Syaikh Ahmad Al-Badawi wafat di Thanta pada hari selasa 12
Rabiul Awal 675 H / 24 Agustus 1276 M, saat berusia 79 tahun.
Makam Syeikh Ahmad Badawi di Thanta Mesir
Beberapa komentar ulama mengenai Fadhilat Sholawat Badawi
Tok
Syaikh Wan 'Ali Kutan al-Kelantani rhm. dalam kitabnya "al-Jawharul
Mawhub" halaman 29 menulis, antara fadhilat sholawat ini seperti
berikut:- Telah
menyebut kebanyakan dari orang yang 'arifin bahwa sholawat
ini telah mujarrab bagi menunaikan segala hajat dan melipur lara segala dukacita dan menolakkan segala bala` dan menghasilkan segala
anwar dan asrar. Dibacakan dia tiap-tiap hari 100 kali. Syaikh
Yusuf bin Ismail an-Nabhani rhm. dalam "Afdhalush Sholawat" juga
membuat nukilan sebagaimana di atas dari Sidi Ahmad Zaini Dahlan
rhm. dengan sedikit tambahan, yaitu: ".....bahkan sholawat ini mujarab
untuk segala sesuatu dan bilangan wiridannya ialah 100 kali setiap hari.
Sewajarnya para muridin memulakan suluk mereka dengan shighah sholawat
ini ....." Hikmah
dari membaca sholawat ini ialah menerangkan hati dapat menyingkap
rahasia-rahasia ilmu dan mengobati racun-racun dan pembuka rezeki. Sholawat
ini hendaklah dibaca setiap hari 100 kali atau 92 kali. Sayyid
Ahmad Ruslan mengomentari shalawat ini, "Shalawat ini sangat mujarab
untuk menunaikan hajat, mengusir kesusahan, menolak bencana, dan
memperoleh cahaya; bahkan sangat manjur untuk segala keperluan."
Peringatan!
Guru saya, Abuya Ashaari Muhammad at Tamimi, memberi peringatan khusus dalam hal fadhilat ini. Kita beribadah tujuan sebenarnya adalah untuk menuju Allah, untuk menggapai keredhoan Allah, untuk semakin dekat dengan Allah. Janganlah beribadah bertujuan untuk mendapatkan fadhilat. Fadhilat itu hadiah, hak Allah. Terserah Allah apakah fadhilat itu akan diberi atau tidak diberi. KAlaupun diberi, terserah Allah apakah akan diberi di dunia ataukah di akhirat. Bila beribadah untuk tujuan fadhilat, maka rasa hamba akan sulit di dapat.
Dalam kaitan dengan sholawat pula, tujuan utama bersholawat adalah untuk menghubungkan hati kita dengan Nabi kita, Nabi Muhammad saw. Memang Alalh janjikan bermacam-macam fadhilat dan keberkatan dengan sholawat ini. Tapi jangan bersholawat untuk mendapatkan fadhilat. Bersholawatlah agar makin subur rasa cinta dan rindu kepada Nabi Muhammad saw. Bila Nabi Muhammad saw sudah menjadi kekasih kita, yang mana Baginda adalah kekasih Allah, tentulah tanpa kita minta pun Allah akan selesaikan masalah kita dan memenuhi hajat-hajat kita.
Syair Syeikh Ahmad Badawi ketika Menziarahi Nabi Muhammad saw di Madinah.
Cemburu saya mendengar luahan hati seorang Syeikh Ahmad Badawi ketika berziarah ke Makam Nabi. Coba tonton video-nya, dilengkapi dengan terjemahan sehingga kita dapat merasakan betapa intim-nya hubungan mereka.
Syair Syeikh Ahmad Badawi ketika ziarah Nabi Muhammad saw.
Wahai Allah! Limpahkanlah rahmat atas Nabi Muhammad saw.
Wahai Tuhanku! limpahkanlah rahmat dan kesejahteraan ke atasnya.
Jika dikatakan: Apakah yang kamu bawa pulang selepas menziarahi maqam Nabi Muhammad saw?
Wahai semulia-mulia makhluk! Apakah yang patut kami jawabkan?
Katakanlah: Kami kembali dengan membawa segala kebaikan
dan telah berhimpn generasi sekarang dan dahulu
Wahai Allah! Limpahkanlah rahmat atas Nabi Muhammad saw.
Wahai Tuhanku! limpahkanlah rahmat dan kesejahteraan ke atasnya.
Kalau bukan karenamu, wahai hiasan dunia (Nabi Muhammad saw)!
Niscaya tidak bhagia hidup dan kewujudanku
Dan tidaklah aku beribadat melalui sholatku,
di dalam ruku maupun sujud
Wahai Allah! Limpahkanlah rahmat atas Nabi Muhammad saw.
Wahai Tuhanku! limpahkanlah rahmat dan kesejahteraan ke atasnya.
Wahai malam (kelahiran Rasulullah saw) yang penuh keredhaan Ilahi!
Berulanglah agar menjadi tentram jiwaku
Datanglah semula dengan segala kebaikan,
Dengan berkat Al Musthofa yang mulia keturunannya
Wahai Allah! Limpahkanlah rahmat atas Nabi Muhammad saw.
Wahai Tuhanku! limpahkanlah rahmat dan kesejahteraan ke atasnya.
Demi Allah! Sampaikanlah aku kepada tebusan jiwaku (Nabi Muhammad saw)!
Aku bimbang dan sedih kiranya tidak dapat syafaatmu
Aku hamba yang sangat cinta pada hadratmu;
hari dapat bertemu denganmu adalah hari rayaku
Wahai Allah! Limpahkanlah rahmat atas Nabi Muhammad saw.
Wahai Tuhanku! limpahkanlah rahmat dan kesejahteraan ke atasnya.
Kami akhiri dengan sholawat ke atas Nabi kami;
dan keluarganya yang kuat ruku dan sujud